Prakata Pertanian & Masalah Generasi

Saya tidak akan mampu menulis buku ini tanpa kesempatan mengajar kajian agraria serta kajian anak dan kepemudaan selama bertahun-tahun di International Institute of Social Studies (ISS) di Den Haag, Belanda, dan juga penelitian pada topik yang sama selama bertahun-tahun di Indonesia. Pada 2011, sewaktu memasuki usia pensiun dari ISS, saya mencoba menyatukan dua bidang kajian ini—kajian agraria dan kajian kepemudaan—dalam Pidato Perpisahan berjudul “Who Will Own the Countryside? Dispossession, Rural Youth and the Future of Farming” (Siapa yang Akan Mempunyai Pedesaan? Penggusuran, Pemuda Desa, dan Masa Depan Pertanian). Pada saat itu juga timbul ambisi untuk menulis buku kecil ini.

Dalam proses menulis, saya juga sangat terbantu dengan kesempatan mempresentasikan tema-tema dari buku ini di berbagai kampus dan lembaga: Free University Amsterdam, Belanda; Australian National University, Australia; BOKU University of Natural Resources and Life Sciences, Austria; Guelph University dan Trent University, Kanada; College of Humanities and Development Studies, China Agricultural University, Tiongkok; International Fund for Agricultural Development (IFAD), Italia; Universitas Gadjah Mada, Universitas Mercu Buana, Universitas Indonesia, Universitas Lampung, Universitas Kristen Satya Wacana, Sajogyo Institute, dan Yayasan Akatiga, Indonesia. Interaksi di berbagai forum itu telah memperkuat keyakinan saya bahwa harus ada sebuah buku kecil tentang dimensi generasi dalam pertanian, dan saya sangat berterimakasih kepada Jun Borras yang mendorong saya untuk menyumbangkan buku ini buat Seri Kajian Petani dan Perubahan Agraria ICAS.

Saya sangat beruntung mendapatkan komentar serta saran kritis terhadap draf pertama buku ini—banyak di antaranya sangat terperinci—dari sebagian penulis kesukaan saya dalam kajian agraria dan kajian kepemudaan/generasi: Nicola Ansell, Henry Bernstein, Roy Huijsmans, Tania Li, Jim Sumberg, dan Jan Douwe van der Ploeg. Hanny Wijaya memberi banyak saran berharga, khususnya pada bab terkahir. Terima kasih banyak kepada kalian semua atas waktu yang diluangkan.

Atas semangat dan rujukan-rujukan yang berguna, saya menghaturkan terima kasih kepada semua rekan di Land Deal Politics Initiative, Emancipatory Rural Politics Initiative, tim peneliti “Menjadi Petani Muda” di Kanada, Tiongkok, India, dan Indonesia, juga kepada Ratna Saptari dan Clara Mi Young Park.

Untuk edisi bahasa Inggris, adalah kesempatan yang menyenangkan bisa bekerjasama dengan tim Fernwood Publishing: Beverley Rach, Brenda Conroy, Candidad Hadley, Curran Farris, Errol Sharpe, dan banyak orang yang tidak berkontak secara personal langsung dengan saya.

Untuk edisi bahasa Indonesia ini, saya merasa beruntung bisa bekerjasama dengan tim penerjemah dan penyunting yang tekun serta profesional, hingga versi Indonesia ini dapat diandalkan baik dalam keakuratan substansi maupun dalam memaknai nuansa prosa saya yang kadang-kadang terlampau rumit. Terima kasih sekali lagi kepada Jun Borras atas dukungan pendanaannya melalui prakarsa Democratizing Knowledge Politics. Semoga buku ini bisa memiliki peran kecil dalam usaha “demokratisasi politik pengetahuan” di Indonesia, khususnya yang menyangkut pemuda desa dan regenerasi pertanian.

 

Ben White

Add Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *