Semesta Ume: Teknologi Cerdas Pertanian Leluhur

Penulis: Mardiana Dana Darren dan Taibah Istiqamah

Editor: Siti Maimunah dan Rizki Anggarini Santika Febriani
Ilustrator: Nur Yani

xxxii + 116 hlm.; 13 x 19 cm.

ISBN: [dalam proses permohonan]

Description

Peladangan Dayak di Kalimantan dengan metode tebas bakar kerap dituding sebagai penyebab kebakaran hutan, padahal merupakan teknologi cerdas pertanian berlandaskan pengetahuan turun-temurun. Buku ini menyuguhkan pengetahuan berladang Dayak Ma’anyan sebagai semesta ume: kosmologi yang menghubungkan alam, leluhur, dan manusia sekaligus narasi tanding perempuan peladang terhadap kebijakan yang menyalahkan mereka, alih-alih korporasi yang sesungguhnya merusak hutan.

***

Jeritan perempuan adat di Semesta Ume mengoyak nurani. Membacanya bak menyaksikan penghancuran peradaban berlandaskan kosmologi ume yang menyelaraskan relasi manusia-alam-semesta. Masyarakat adat Dayak Manya’an bukannya menolak perubahan zaman. Masalahnya, kebijakan yang mendukung eksploitasi hutan justru mengkriminalisasi masyarakat adat yang merawat alam. Buku ini membuka wawasan tentang kearifan mengolah lahan yang disalahpahami. Ume bukan ladang berpindah, melainkan “gilir balik”—kesabaran ekologis untuk menunggu alam memulihkan diri sebelum digarap kembali. Semesta Ume merangkum falsafah, etika, dan tata cara menghormati tanah, benih, pohon, roh leluhur, serta memaknai asap dan mengatur api agar tak melewati batasnya. Sebuah bacaan wajib bagi semua anak bangsa agar arif merawat keragaman budaya dan kelestarian tanah air.

Melani Budianta, Komisi Kebudayaan, Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia

 

Pasal 69 ayat (2) UU PPLH 32/2009 mengakui tebas bakar sebagai kearifan lokal, bukan kejahatan—namun perempuan Ma’anyan tetap dipenjara karena berladang. Semesta Ume adalah catatan perlawanan sekaligus doa yang dilangitkan agar hutan, adat, dan anak cucu tidak ikut mati.

Nur Amalia, S.H., advokat masyarakat adat