Description
Ketika rezim ekstraktivisme datang dengan tameng “pembangunan”, “energi bersih”, dan “transisi energi”, ruang hidup masyarakat di berbagai pelosok Nusantara kembali terancam digusur. Di balik narasi megah negara dan korporasi, buku Tanah Ini Tubuh Kami menghadirkan suara perempuan yang memilih untuk tidak bertekuk lutut. Dari bukit-bukit Poco Leok dan Mataloko di Flores, lumbung pangan Sumber Sari di Kalimantan Timur, pesisir Pulau Wawonii di Sulawesi Tenggara, hingga bentang karst Sagea di Maluku Utara, buku ini merekam kesaksian, pengalaman, dan perlawanan perempuan yang berada di garis depan krisis ekologis. Bagi mereka, tanah bukan sekadar aset yang dapat diperjualbelikan, melainkan rahim kehidupan; air bukan semata komoditas, melainkan darah yang mengaliri kampung, kebun, tubuh, dan masa depan mereka. Buku ini menelusuri bagaimana perempuan mengorganisir perlawanan dari ruang-ruang keseharian—dapur, kebun, pesisir, kampung, hingga jalanan. Mereka memantau pergerakan truk, menghadang alat berat, mempertanyakan klaim kebijakan dan proyek transisi energi, mempertahankan sumber pangan, serta merawat ingatan kolektif melalui adat, cerita, dan kebudayaan.


