oleh MUHAMMAD ZAKY
Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, banyak orang terjebak dalam rutinitas yang membuat mereka makin jauh dari lingkungan sekitar. Kecepatan menjadi sesuatu yang dikejar, sementara ruang untuk berinteraksi dan kebersamaan menyusut. Buku Meruang Pelan-Pelan menunjukkan kepada kita bahwa menciptakan ruang untuk melambat dan membangun kembali kolektivitas sangatlah mungkin di tengah arus sirkuit kapital yang senantiasa mengalienasi kita dari relasi dengan manusia, ruang, dan lingkungan.
Ditulis oleh periset dan arsitek studiotanah, Riangga Yudas dan Nani Susiani, Meruang Pelan-Pelan juga merupakan catatan pengalaman kedua penulis dalam proses aktivasi rumah limasan berusia 50 tahun di Kampung Jageran, Kota Yogyakarta, menjadi Warung Pelan-Pelan. Ini merupakan dokumentasi nyata ketika arsitektur tak berhenti pada bentuk, melainkan terus hidup dalam relasi.
… menciptakan ruang untuk melambat dan membangun kembali kolektivitas sangatlah mungkin di tengah arus sirkuit kapital yang senantiasa mengalienasi kita dari relasi dengan manusia, ruang, dan lingkungan.
Warung Pelan-Pelan dikelola secara kolektif. Selain menjadi warung makan dengan variasi menu berdasarkan siapa yang sedang “membajak dapur”, bangunan yang terasa seperti rumah nenek ini juga menjadi rumah bagi produk-produk UMKM dari individu maupun kolektif sedulur warung. Asal nama “Warung Pelan-Pelan” sebenarnya sederhaha saja, yaitu merujuk pada tanda “pelan-pelan” yang ada di gang tempat warung ini berdiri. Iya, tanda “pelan-pelan” yang biasa kita temui di gang-gang kecil.
Perihal sebuah rasa dalam arsitektur, buku ini membahasnya dengan menarik. Tempat-tempat komersial fancy umumnya dibuat sedemikian rupa agar memenuhi standar “instagramable” pada fasad maupun interiornya. Tujuannya tak lain untuk menarik customer sebanyak mungkin. Hal seperti ini sudah menjadi arus utama alias begitu lumrah pada bangunan-bangunan komersial yang hanya mementingkan profit. Tak jarang, kepentingan masyarakat di sekitar tempat itu bahkan sengaja diabaikan.
Warung Pelan-Pelan berbeda. Dalam proses aktivasi, mereka melakukan dialog rutin dengan warga agar ingatan kolektif mereka tentang rumah limasan itu tetap lestari. Sebagian besar desain warung pun tetap mempertahankan bentuk aslinya. Ketika operasional warung sudah berjalan, prinsip untuk tak menggusur kepentingan warga setempat tetap dipertahankan. Salah satunya terkait jam operasional. Dibangun di tengah permukiman, warung ini hanya buka sampai jam 8 malam demi menghormati ketenangan warga.
Perencanaan arsitektur Warung Pelan-Pelan juga memperhatikan dampak lingkungan dari proses aktivasi bangunan limasan ini. Mulai dari memilih materiel ramah lingkungan sampai kuantitas materiel, semua diperhitungkan agar tak menciptakan limbah sampah.
Ruang kolektif Warung Pelan-Pelan dikelola secara koperasi dengan sistem keping untuk bagi hasil di antara anggota koperasi. Setiap pekerjaan yang dilakukan anggota koperasi memiliki nilai keping tertentu. Setiap akhir periode, nilai keping yang terkumpul akan ditukar dengan uang. Nilai setiap keping pun tak tetap, mengikuti sejumlah perhitungan. “Dari setiap orang sesuai kemampuannya, untuk setiap orang sesuai kebutuhannya,” ungkapan dari Karl Marx ini menjadi etos kerja di Warung Pelan-Pelan.
Ditulis dengan gaya santai, tanpa bahasa ndakik-ndakik namun tetap kritis, buku ini memudahkan pembacanya untuk mencerna konsep-konsep yang tampak rumit bagi awam tentang koperasi maupun arsitektur. Ilustrasi-ilustrasi yang tersebar di dalam buku ini juga menambah kemudahaan bagi pembaca untuk mengimajinasikan hal yang sedang penulis jelaskan. Jadi, berbagai ilustrasi itu tak berhenti pada estetika, melainkan punya fungsi langsung dengan narasi yang ingin disampaikan.
… buku ini memudahkan pembacanya untuk mencerna konsep-konsep yang tampak rumit bagi awam tentang koperasi maupun arsitektur.
Di beberapa bagian buku, penulis menyampaikan nasihat-nasihat dengan cara yang hangat, tanpa kesan menggurui. Pembawaan yang santai sekaligus kritis ini memberi kesan nyaman saat membacanya; tidak memenuhi kepala, namun tetap ada isinya.
Sebelum membacanya, saya mengira buku ini hanya diperuntukkan pada orang yang berkecimpung di dunia arsitektur. Ternyata perkiraan saya sama sekali meleset. Meruang Pelan-Pelan mampu menyuguhkan isi yang berimbang tentang kolektivitas dan arsitektur. Pada bahasan tentang arsitektur pun disampaikan dengan gaya naratif yang ringan.
Pada akhirnya, saya sangat merekomendasikan buku ini untuk dibaca siapa pun yang berniat membangun ruang kolektif, koperasi, dan para peminat kajian arsitektural. Dengan membaca ini, kita memahami bahwa kadang yang kita perlukan hanyalah untuk pelan-pelan.





Add Comment