Pelan-Pelan Asal Lestari

Pengantar buku Meruang Pelan-Pelan
Oleh Marco Kusumawijaya

 

Musim semi sedang memarakkan beragam prakarsa unik di berbagai kalangan dalam tiga dasawarsa terakhir. Entah apa yang memicunya. Ada semacam petir seperti yang memunculkan kulat Pelawan ke permukaan. Entah itu pemanasan global yang pelan tapi pasti mulai membayangi mereka, bahkan telah menghantui mimpi-mimpi sebagian dari mereka yang lebih peka atau lebih terkena langsung. Entah rumpang yang makin lebar antara perasaan masyarakat luas dan ketidakbijakan para pemimpin politik, atau sistem politik itu sendiri telah memerangkap mereka di dalam matriks maya yang memanjakan. (Baru-baru ini semacam survei menyimpulkan bahwa DPR-RI adalah lembaga yang paling tidak dipercayai rakyat. Sementara Gaza menyingkapkan kemunafikan sejumlah nilai-nilai yang telah runtuh integritas, apalagi otoritas moralnya.) Entah karena sistem apa pun yang ada seperti menekan memeras mereka menghasilkan hal-hal kreatif.

Kenyataannya, memang dunia memerlukan yang berbeda—tidak, bukan yang berbeda saja, tetapi yang lain sama sekali dari yang ada di dalam arus utama yang memabukkan dan menghanyutkan. Kenyataannya, kesadaran bersama kita makin tajam dan pasti: Ada yang salah dengan arus utama yang sedang membakar dunia tempat tinggal kita ini, dengan kerakusan keserakahan dan kemeranaan ketidakadilan. Kesadaran bersama sedang memekat menjadi tidak percaya kepada yang biasa-biasa saja, yang kenyataannya, ketika ditelisik mendalam, memang membosankan, tidak menarik dan busuk.

Warung Pelan-Pelan (semua “P” ditulis huruf besar, seperti kita menulis “U” pada Undang-Undang Dasar) berkisar di sekitar makan, yang melibatkan makanan, ruang, teman (serta temannya temannya temannya teman …) dan pekraman tempatannya. Teman itu bisa lama, baru, baru saja, dan nanti. Karena itu, otak harus punya ruang besar untuk mengingat wajah, watak, dan nama yang terus mengalir, kadang berpusar singgah atau menetap di dalam ruang itu. Hati harus lapang, subur, dan perasa untuk menerima semaian-semaian tak terduga. Makan itu enak dan cukup terasanya di hati.

Peluncuran dan Diskusi Buku “Meruang Pelan-Pelan” di Warung Pelan-Pelan, Kampung Jageran, Kota Yogyakarta, pada Sabtu (16/5).

Makan adalah kepentingan spesies yang universal, purba, asali, abadi. Ada yang makan diam-diam seperti tumbuhan, langsung diasup oleh Sri dengan bantuan dari Indra dan Surya. Ada yang harus bergerak cepat dan membunuh. Ada yang mengolahnya dulu. Semuanya melibatkan banyak sekali unsur pekraman, ekosistem, dan mata rantai. Karena itu, berfokus pada makan memantik perenungan tidak terelakkan atas hampir segala hal. Karena itu pula, berbagai temuan lain dimungkinkan—perubahan dimungkinkan!

Perubahan memang harus dimulai pada tiap-tiap orang, tetapi tidak mungkin tanpa kebersamaan dalam suatu konteks yang menguji maupun memberinya dorongan. Makan adalah salah satu konteks yang abadi relevan, dan ada di dalam banyak upaya manusia hidup sambil merenungkan hidup di berbagai tempat—kadang disebut kebudayaan. Homo sapiens membuatnya dapat menjadi brutal atau bertata krama, yang mensyaratkan adanya pekraman—menjadi apa yang kadang disebut peradaban.

Warung Pelan-Pelan (WPP) ini suatu ruang makan, yang menjadi tempat karena ada kebudayaan (yang menghasilkan bentuk limasan, selain banyak hal lain) dan peradaban (yang menghasilkan pengetahuan dan seniman bangunan, selain banyak hal lain). Pelan-pelan meskipun tidak pasti (dan tidak apa-apa), kebudayaan dan peradaban terus menghasilkan jalan lain (yang tidak perlu baru) dari yang sedang membawa ke tepi jurang kehancuran keduanya. Semoga kesatuan wadah dan isi terus berubah menuntun kepada kelestarian kehidupan (yang selalu berarti ‘bersama’ yang adil), bertumpu pada kerjasama semua hasil baik kebudayaan dan peradaban sebelumnya.

 

Muntuk, 22 November 2025

Add Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *