Menulis Sejarah, Membangkitkan Tokoh dari Kubur Realisme Magis dalam novel Cantik Itu Luka* Dengan judul Cantik Itu Luka (CIL) dan desain sampul yang tidak memadai, kesan pertama yang muncul pada novel karya Eka Kurniawan ini adalah murahan...
Read moreNovel Cantik, Namun Menyisakan Luka
Novel Cantik, Namun Menyisakan Luka* Cantik Itu Luka, demikianlah Eka Kurniawan, sang pengarang, memberi judul pada novel pertamanya yang telah diterbitkan Desember tahun lalu atas kerja sama AKY (Akademi Kebudayaan Yogyakarta) dan penerbit...
Read moreChe Guevara Dalam Komik
Che Guevara Dalam Komik* Semenjak kuburannya ditemukan tahun 1996 setelah 30 tahun kematiannya, Che Guevara seakan hidup kembali. Sosok Che Guevara, Sang Revolusioner menarik perhatian kalangan anak muda di Indonesia. Dengan wajah berbaret hitam...
Read moreKesaksian Orang Biasa
Kesaksian Orang Biasa* Tidak begitu salah kalau kebudayaan dikatakan sebagai perisai dan pelindung sekaligus solusi bagi bangsa penciptanya demi untuk melanjutkan kehidupan. Sebaliknya, tanpa suatu kebudayaan maka suatu bangsa bisa dipastikan...
Read moreFundamentalisme Agama vs Kapitalisme Global
Fundamentalisme Agama vs Kapitalisme Global* Abi berada di jalan yang hak. Biarkan Abi terluka di mata sejarah. Di mata manusia yang tidak mengerti akan hakikat sebuah perjuangan di jalan Allah. Ikhlas dan bersabarlah di jalan Allah. (Surat Imam...
Read moreLuka itu Mengalir Sampai Jauh
Luka itu Mengalir Sampai Jauh* Membaca novel bagi pembaca bebas dan impresif, tak selalu, apalagi harus, mengejar kalimat pertama hingga terakhir hanya demi menggapai keutuhan yang serbapadu dari aneka unsur yang berhuni di dalam novel. Kadang...
Read moreMembela Pembela Agama Tuhan
Membela Pembela Agama Tuhan* Buku ini menjelaskan duduk perkara gerakan Islam di Tanah Air di era pemerintah Abdurrahman Wahid. Sebagai “orang dalam”, Eko Prasetyo, penulis buku ini, tidak segan-segan menjelaskan secara detail...
Read moreKisah Si Cantik yang Buruk Rupa
Kisah Si Cantik yang Buruk Rupa* EKA Kurniawan, tampaknya sungguh-sungguh ingin menjadi seorang sastrawan. Setelah menerbitkan kumpulan cerpen dalam antologi Corat-coret di Toilet (1999), alumnus Fakultas Filsafat UGM ini tampaknya tak mau...
Read morePRAM dan KITA
PRAM dan KITA: Diskusi dan Launching Buku Pramoedya Ananta Toer Permasalahan bangsa ini, lambat laun seperti tengah berjalan menuju ke kebangkrutan di berbagai lini. Kita seperti kebingungan untuk mencari titik berangkat dalam menyelesaikan...
Read morePramoedya kepada Angkatan Muda: Hentikan Kebusukan Politik
Pramoedya kepada Angkatan Muda: Hentikan Kebusukan Politik* (Yogyakarta, Kompas) Sastrawan Pramoedya Ananta Toer menyatakan, pembusukan politik sekarang ini hanya bisa distop oleh angkatan muda. Ia mengusulkan, angkatan muda harus selalu melatih...
Read moreGus Dur: Kecintaan Pramudya Terhadap Rakyat Kecil Tak Pernah Luntur
Gus Dur: Kecintaan Pramudya Terhadap Rakyat Kecil Tak Pernah Luntur* Budayawan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menilai karya-karya sastra yang dihasilkan Pramudya Ananta Toer memiliki orientasi perikemanusiaan yang sangat tinggi. “Orientasi itu...
Read moreKegelisahan Seorang Cendekiawan
Kegelisahan Seorang Cendekiawan* BUKU ini berisi kumpulan catatan kritis Mansour Fakih yang pernah disampaikan di berbagai forum seminar, pelatihan dan diskusi. Secara keseluruhan tulisan dalam buku ini adalah suatu cara pandang alternatif...
Read more




