Resensi ini terbit di kompas.id, 05 Juli 2026
oleh YULI RAHMAWATI
Gerakan Agraria Transnasional (GAT) memiliki beragam bentuk dan tujuan sejak hadir pada 1980-an. Tantangan yang dihadapi tidak lepas dari tarik-menarik kekuatan.
Solidaritas dan aksi transnasional di antara kaum tani dan pelaku usaha tani masih terus menjadi tantangan tersendiri. Gerakan petani harus menyeimbangkan antara produksi pertanian mereka dan tuntutan aktivisme di lingkup lokal, nasional, ataupun internasional.
Perspektif gerakan agraria saat ini turut membentuk berbagai ketentuan dan tolok ukur dalam serangkaian praktik dan perdebatan di bidang pembangunan internasional. Bagi para pembuat kebijakan, ilmuwan, aktivis, dan praktisi pembangunan yang peduli pada isu-isu gerakan sangat penting untuk mengurai simpul-simpul pemahaman tentang Gerakan Agraria Transnasional (GAT). Publikasi ini untuk memenuhi kebutuhan tersebut, ICAS (Initiatives in Critical Agrarian Studies) menerbitkan buku Dinamika Politik Gerakan Agraria Transnasional.
Publikasi Dinamika Politik Gerakan Agraria Transnasional karya Marc Edelman dan Saturnino M Borras Jr ini adalah buku kelima dari Seri Kajian Petani dan Perubahan Agraria yang diterbitkan ICAS. Buku pertama seri ini ditulis oleh Henry Bernstein, berjudul Dinamika Kelas dalam Perubahan Agraria. Seri kedua ditulis oleh Jan Douwe van der Ploeg berjudul Petani dan Seni Bertani: Maklumat Chayanovian. Buku ketiga disusun oleh Philip McMichael dengan judul Rezim Pangan dan Masalah Agraria. Buku keempat adalah karya Ian Scoones, yakni Penghidupan Berkelanjutan dan Pembangunan Pedesaan. Rangkaian buku ini menegaskan betapa penting dan relevannya pendekatan ekonomi-politik agraria sebagai lensa analisis dalam kajian agraria.
Buku ini merupakan terjemahan bahasa Indonesia dari Political Dynamics of Transnational Agrarian Movements. Terdapat tiga benang intisari dari buku ini. Pertama, keberagaman GAT di berbagai tempat dan waktu. Kedua, krisis pangan dan pertanian yang mendorong menguatnya peran GAT di tingkat internasional, serta yang ketiga dinamika politik yang berlangsung di dalam tubuh GAT sendiri, antar-GAT, dan antara GAT dengan organisasi nonpemerintah (LSM) ataupun lembaga-lembaga pengaturan nasional dan internasional.
Selain menyoroti GAT yang radikal, salah satu fokus utama buku ini adalah mencatat keberadaan GAT lain yang mengusung haluan lebih konvensional, mereka yang menekankan penggunaan pertanian industri untuk menaikkan produksi pangan demi memenuhi kebutuhan yang terus meningkat.
Buku yang ditulis Edelman dan Borras Jr ini merupakan kajian kritis tentang dinamika agraria secara global. Penulis menolak asumsi umum yang menganggap GAT semata-mata lahir sebagai reaksi terhadap globalisasi neoliberal. Lewat pendekatan historis, mereka menelusuri akar GAT hingga akhir abad ke-19, jauh sebelum istilah globalisasi populer digunakan.
Penulis menolak asumsi umum yang menganggap GAT semata-mata lahir sebagai reaksi terhadap globalisasi neoliberal.
Gerakan Agraria Transnasional
Definisi dan misi dari Gerakan Agraria Transnasional (GAT) adalah jaringan, koalisi, dan ikatan solidaritas lintas negara-bangsa yang dijalin petani dan para sekutu mereka untuk memengaruhi kebijakan di tingkat nasional dan internasional. GAT bukanlah hal yang baru. Gagasan solidaritas internasional sudah ada bahkan lebih dari satu abad silam. Sebagian gerakan terbentuk pada akhir abad XIX dan awal abad XX, sementara ada yang muncul setelah Perang Dunia II, serta banyak yang berkembang pada 1980-an dan 1990-an.
Sejarah awal GAT yang muncul pada 1980-an terkait erat dengan program penghematan dan penyesuaian struktur ekonomi yang didukung IMF dan Bank Dunia. Kemunculannya juga dipicu oleh berbagai perjanjian perdagangan bilateral dan multilateral. Sebagai gerakan sosial, GAT menantang para analis untuk mengembangkan peranti konseptual yang baru.
Dalam perjalanannya, badan-badan pembangunan internasional dengan cepat menangkap kemunculan GAT sebagai peluang baru untuk membangun ”kemitraan demi pembangunan”, model pembangunan yang menekankan hubungan kolaboratif antara lembaga internasional dan korporasi serta masyarakat sipil.
GAT juga berhasil merajut jaringan antarorganisasi dari kelompok-kelompok masyarakat perdesaan yang terpinggirkan dan tertindas di berbagai wilayah dunia. Keberhasilan GAT melampaui sekat-sekat negara, bangsa, bahasa, ras, etnis, agama, generasi, dan jender. Namun, kompleksitas gerakan mewarnai perjalanan kehadirannya, sebab di dalamnya terdapat tegangan kelas antara kelompok kaya, menengah, dan miskin. Tidak hanya itu, interaksi antara GAT, LSM, dan institusi pemerintah, baik di level nasional maupun global, tidak luput dari turbulensi dinamika politik.
Keberhasilan GAT melampaui sekat-sekat negara, bangsa, bahasa, ras, etnis, agama, generasi, dan jender.
Tantangan GAT
Di balik banyak capaian luar biasa yang diraih GAT, masih ada tantangan besar yang membayangi. Salah satunya adalah perimbangan yang rapuh antara aksi politik ”di dalam” dan ”di luar” lembaga-lembaga kunci.
Gerakan-gerakan sosial yang berhasil kerap justru melemah, terutama di negara dengan sistem demokrasi liberal, ketika tuntutan mereka mulai diakomodasi melalui saluran politik formal, biasanya partai politik. Kondisi ini kadang menghasilkan sinergi positif, tetapi tetap memunculkan persoalan tentang bagaimana menyeimbangkan berbagai aspek yang ada.
Kajian atas gerakan sosial transnasional juga kerap mengandung asumsi bahwa gerakan berskala transnasional pasti lebih kuat dibandingkan yang berskala nasional. Namun, anggapan ini justru terbantahkan oleh berbagai dinamika yang terjadi di tubuh GAT sendiri. Publikasi ini menunjukkan secara apa adanya kerumitan dan konflik dalam tubuh GAT. Tarik-menarik antara kekuatan ekonomi, politik, dan budaya mewarnai dinamika pergerakan agraria.
Publikasi ini mengajak pembaca melihat gerakan agraria dari perspektif kritis yang kokoh secara ilmiah tetapi mudah dibaca, relevan secara politik, berorientasi kebijakan, dan terjangkau bagi kalangan awam yang mencoba memahami gerakan kritis di ranah agraria. Buku yang mampu menjawab banyak pertanyaan mengenai seluk-beluk politik GAT, sekaligus menantang intuisi dan memantik pembaca untuk berpikir kritis. (LITBANG KOMPAS)
Publikasi ini mengajak pembaca melihat gerakan agraria dari perspektif kritis yang kokoh secara ilmiah tetapi mudah dibaca, relevan secara politik, berorientasi kebijakan, dan terjangkau bagi kalangan awam yang mencoba memahami gerakan kritis di ranah agraria.





Add Comment