Pusat Studi Agraria (PSA) IPB University bekerja sama dengan Serikat Petani Indonesia (SPI) dan INSISTPress meluncurkan tiga buku Seri Kajian Petani dan Perubahan Agraria di Auditorium Andi Hakim Nasution, Kampus IPB Dramaga (2/2).
Momen ini menjadi ruang refleksi sekaligus penguatan diskursus agraria di tengah dinamika pembangunan dan perubahan sosial yang terus berkembang.
Tiga buku terjemahan karya Saturnino M Borras Jr dan Ben White yang diperkenalkan dalam peluncuran tersebut meliputi Dinamika Politik Gerakan Agraria Transnasional, Aktivisme Cendekia & Perjuangan Agraria, serta Pertanian & Masalah Generasi. Kegiatan ini turut menghadirkan diskusi pemikiran kritis agraria yang melibatkan akademisi, aktivis, dan perwakilan gerakan petani.
Wakil Rektor IPB University bidang Riset, Inovasi, dan Pengembangan Agromaritim, Prof Ernan Rustiadi, menegaskan bahwa pemikiran kritis agraria tetap relevan dalam menjawab berbagai tantangan pembangunan.
“Pemikiran-pemikiran seperti ini ada yang menganggap fade away, tapi ada yang menganggap justru harus match dengan perkembangan-perkembangan yang ada sekarang ini,” ujarnya.
Prof Ernan juga menyorot berbagai program pembangunan populis pemerintah saat ini. Program seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), Sekolah Rakyat, dan Pemeriksaan Kesehatan Gratis (PKG), menunjukkan adanya upaya untuk mengurangi ketimpangan sosial. Di saat bersamaan, berbagai gagasan pengimbangnya merupakan respons terhadap kesenjangan yang masih terjadi di berbagai sektor.
Senada dengan hal tersebut, Ketua PSA IPB University, Dr Bayu Eka Yulian, menyebut pentingnya akses pengetahuan agraria bagi masyarakat luas. Ia menilai sirkulasi pengetahuan global saat ini cenderung mengikuti logika pasar.
“Sirkulasi pengetahuan di tingkat global membawa kita untuk merefleksikan diri, bagaimana pengetahuan itu dihasilkan, diberi nilai, diedarkan, dipertukarkan, dan dimanfaatkan yang mirip seperti dagangan. Boleh kita sebut sebagai industrialisasi pengetahuan,” jelasnya.
Karena itu, ia menegaskan perlunya upaya untuk memastikan pengetahuan tetap dapat diakses oleh petani dan masyarakat pedesaan.
Dari perspektif gerakan petani, Ketua Umum SPI, Henry Saragih, menilai buku-buku tersebut menjadi pintu masuk penting untuk memahami dinamika perjuangan agraria, baik di tingkat nasional maupun internasional. Ia menyoroti bagaimana gerakan petani lintas negara mulai menguat sejak dekade 1990-an.
“Buku ini bisa menghantarkan kita mengkaji mengapa petani di Belanda, Prancis, dan negara lainnya bisa berjuang di level internasional dan bersatu dengan petani-petani dari negara-negara selatan,” ujarnya.
Sementara itu, salah satu penulis buku, Saturnino M Borras Jr, menekankan bahwa pengalaman komunitas petani lokal, masyarakat adat, serta gerakan sosial memiliki peran penting dalam mendorong transformasi sosial.
Menurut Borras, isu agraria akan semakin strategis karena berkaitan langsung dengan penguasaan sumber daya alam, seperti tanah, air, hutan, laut, hingga energi terbarukan.
“Sekarang semua orang ingin mengendalikan alam, baik dalam konteks perang, perubahan iklim, pangan, maupun penambangan untuk energi terbarukan. Oleh karena itu, perjuangan agraria akan menjadi semakin penting,” tegasnya.
Ke depan, ketiga buku ini akan tersedia secara gratis melalui situs resmi INSISTPress guna memperluas distribusi pengetahuan agraria serta memperkuat literasi masyarakat, khususnya petani, nelayan, dan generasi muda desa. (AS)
Sumber: ipb.ac.id





Add Comment