Sastra Pinggiran Jadi Saingan

Sastra Pinggiran Jadi Saingan*

Penerbitan pinggiran dulunya dianggap sebagai pesaing bagi Balai Pustaka, karena penerbitan pinggiran dapat kebebasan dalam bersuara. Hal ini terungkap dalam diskusi buku Roman Pergaoelan karya Sudarmoko dengan pembicara Drs. Heri Nur Hidayat, MS., dan Drs. Endut Aukhadiat, MS., dengan moderator Pramono,SS.,M.Si., pada rangkaian kegiatan hari terakhir Padang Book Fair di Bgd.Aziz Chan, Minggu (9/11).

Buku karya Sudarmoko ini merupakan salah satu karya yang diterbitkan penerbitan daerah di Bukittinggi waktu itu yang bernama Roman Pergaoelan. Dulu itu penerbit pinggiran tidak pernah dianggap oleh orang-orang yang mengagungkan sentralis, yang pada saat itu adalah masanya Balai Pustaka (BP). Sangat kentara sekali perbandingan antara pusat dan daerah itu dilakukan.

Meski tidak pernah dianggap, para penerbit pinggiran tetap bertahan, dan bahkan terus berkembang. Hal ini dikarenakan, pada saat itu untuk dapat menerbitkan buku di BP sangatlah sulit dan banyak persyaratan yang mesti dilewati, antaranya, tulisan tidak memuat SARA, tidak bernuanasa politis, dan tidak melanggar kesusilaan. Karena sedemikian rumitnya persyaratan di BP jika dibandingkan dengan penerbitan pinggiran yang waktu itu ada di Bukittinggi, Medan, Solo, Surabaya, dan lainnya, membuat mereka tidak harus mengikuti aturan kaku tersebut.

Di samping itu, jumlah eksemplar yang diterbitkan BP untuk daerah tidak pernah banyak, sehingga, buku-buku terbitan Roman Pergaoelan selalu ditunggu-tunggu.

“Jadi bukan penerbitan pinggiran yang mengancam penerbitan pusat, tapi sebaliknya, BP waktu itu merasa terancam akan hadirnya penerbitan pinggiran,” ujar Heri.

Hal senada juga disampaikan Endut, ia menekankan betapa besarnya campur tangan pemerintah terhadap penerbitan waktu itu. Sehingga hal ini, menurutnya, membuat para penulis mencari jalan lain, salah satunya melalui penerbitan pinggiran tersebut. Salah satunya yang tetap bertahan, katanya, seperti AA Navis penulis daerah tapi mendunia.

“Walaupun perkembangan terhadap respon masyarakat sangat bagus, namun karya pinggiran tersebut tidak pernah didiskusikan para sastrawan, karena mereka tidak menganggap itu sebagai karya yang layak diperdebatkan,” ujar Endut.

“Pada saat penerbitan pinggiran itu berjaya, sayangnya belum diikuti ideologi yang berkembang di masyarakat sekitar penulis itu sendiri. Hal ini membuat karyanya tidak begitu dalam,” kata Heri.

Hendaknya, kata Heri, penulis juga menyampaikan idelogi yang berkembang di masyarakat. Sehingga hal itu bisa menambah kekuatan, lanjutnya, dan mampu menjadi perhatian para sastrawan. [romi]

*Sumber: www.padangmedia.com – Minggu, 9/11/2008.

*Rehal buku: Roman Pergaoelan/ Sudarmoko/ INSISTPress , 2008.

Add Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *