Menguak Makna Seekor Bebek yang Mati di Pinggir Kali: Balutan Kejujuran dan Penghargaan Manusia*
Semua manusia punya hak dan kesempatan yang sama dalam menjalani hidup. Semua punya waktu 24 jam dan kebebasan atas dirinya masing-masing. Meski begitu, hubungan antarmanusia tidak selamanya hidup dalam keselarasan.
PUTHUT EA kembali hadir dengan antologi cerpennya berjudul Seekor Bebek yang Mati di Pinggir Kali. Sebuah judul yang persuasif dan menerbitkan rasa penasaran. Buku bersampul sederhana ini berisi 15 cerpen. Setiap cerpen dilengkapi satu ilustrasi yang kurang lebih menggambarkan isi cerita.
Puthut menghadirkan beragam kisah perbedaan pandangan dan sempitnya hati nurani yang membuat manusia kadang tidak bisa memanusiakan manusia lainnya.
Seekor Bebek yang Mati di Pinggir Kali mungkin hanya perkara kecil. Namun tidak bagi “Aku”, pencerita utama dalam cerpen pertama di buku ini. Saat kecil, dia menemukan bebek yang mati di pinggir kali. Orang-orang desa menuduhnya membunuh bebek itu. Hanya dua orang yang percaya dia tidak bersalah, ayahnya dan buliknya.
Rasa sayangnya kepada sang ayah yang menaruh kepercayaan padanya lambat laun memudar. Bagaimana tidak? Ayahnya seorang komunis! Dan menjadi keturunan komunis membuatnya kehilangan banyak kesempatan dalam hidup. Dia tidak bisa diterima di SPG, tidak bisa menjalin cinta dengan seorang gadis, dan sulit mendapat pekerjaan.
Stigma negatif tentang komunis juga menjadi ide bagi beberapa cerita lainnya di buku setebal 158 halaman ini. Dengan bahasa sederhana namun menusuk, Puthut berusaha membangun simpati pembaca kepada tokoh-tokohnya yang dipenjara tanpa alasan yang jelas, disiksa, dipisahkan dari keluarganya, hingga dilecehkan serendah-rendahnya.
Diksi yang dipakai cukup santun kendati yang dipaparkan olehnya adalah pelecehan kepada seorang tahanan perempuan. Rezim pemerintah yang serba tidak adil dan pukul rata tidak lepas dari kritikan tajamnya. Namun, penderitaan yang diakibatkan perlakukan semena-mena pemerintah bisa saja menjadi senjata di kemudian hari.
Tengok saja cerpen Rahasia Telinga Seorang Sastrawan Besar. Dengan cerdik, Puthut, atau dalam hal ini, sang sastrawan, mengubah ketidaksempurnaan tubuhnya untuk menggugat balik pemerintah. Telinganya yang sempat menjadi bulan-bulanan pemerintah menjadi tidak berfungsi maksimal. Sampai saat ini, dia menarik simpati siapa pun dengan terus mengisahkan telinganya yang dipopor tentara.
Kebanyakan kisah dalam buku ini memang beraura gelap. Namun bukan berarti tidak ada lagi bentuk penghargaan dan pengertian antar-manusia. Obrolan Sederhana, misalnya. kisah ini rupanya dinominasikan 3 dari lima geng Book Club Radar Jogja minggu ini sebagai cerpen paling berkesan.
Alasannya?
“Ya itu, ceritanya sederhana. Sangat sederhana malah. Hanya percakapan dua orang laki-laki yang tidak saling kenal,” tutur Sharomim Aqsha. Gadis yang sering dipanggil Cici ini memutuskan, obrolan sederhana, meski tidak “wah”, namun sangat mendalam.
“Dari situ, kita tahu kalau bersikap terbuka tidak melulu kepada orang dekat saja. Dengan orang asing pun kita bisa nyaman bercerita hal-hal yang tidak bisa sembarangan kita bicarakan,” paparnya. Dalam Obrolan Sederhana, dua orang laki-laki terpaksa ngobrol bersama karena terjebak hujan.
Obrolan singkat dan basa-basi itu ternyata membuat keduanya heran. Heran karena tidak biasanya mereka bercerita hal-hal pribadi kepada orang lain. Heran, karena mereka ternyata nyaman berbagi.
Kisah lain yang tidak mengekspos kekerasan dan kejahatan adalah Sambal Keluarga. Kisah ini tidak kalah ringan dengan obrolan sederhana. Bahkan, Galih Sitaresmi tersenyum-senyum sendiri saat membacanya.
“Aku kepikiran saja, darimana dia bisa dapat ide untuk cerita ini? Ini unik banget lho. Berapa sering kita memerhatikan makanan yang ada di meja makan rumah kita?” paparnya, setengah takjub.
Kisah keluarga itu juga mengukuhkan satu pendapat bahwa setiap keluarga punya cara sendiri dalam berkomunikasi. Komunikasi dalam keluarga ini ditentukan lewat sambal. “Bahkan menunjukkan keputusan tertentu pun tidak harus dengan kata-kata. Cukup dengan sambal,” tambah Dian.
Geng book club yang berasal dari UNY, Jukie, ternyata menganggap cerita paling spesial tetaplah Seorang Bebek yang Mati di Pinggir Kali. Ending dalam cerita ini sangat mengagetkan kendati alurnya anteng-anteng saja. Karena itu, judul ini sangat pantas dijadikan cerita pembuka sekaligus judul yang mewakili keseluruhan buku.
“Ceritanya lengkap. Tidak Cuma tentang kejujuran, tapi juga prejudice dan kebencian kita yang terlalu berlebihan terhadap sesuatu. Meski kesannya sederhana, menurut aku cerpen ini filosofis,” terangnya. (luf)
Banyak Aku di Mana-Mana….
GUNA menguatkan cerita, Puthut EA menggunakan pendekatan orang pertama. Banyak menggunakan ‘’aku’’ dalam berbagai ceritanya, rupanya tidak membuat Puthut kehilangan identitas setiap aku. Buktinya, dalam setiap cerpen, aku selalu punya gaya bahasa dan pola pikir yang khas.
Aku bisa muncul sebagai seorang bocah yang dituduh membunuh bebek, bocah yang tidak paham kenapa orang-orang melempari masjidnya, seorang ibu yang diseret paksa karena dianggap pemberontak, dan banyak hal lagi.
“Menurutku, yang paling berkesan dari film ini, setiap aku bercerita cukup detil. Dan tidak terpengaruh aku lainnya. Sebagai pembaca, emosi yang aku dapat ketika baca satu cerpen dan cerpen lainnya berbeda. Itu karena penokohan aku yang kuat,” papar Arif.
Cowok ini mengaku belum selesai membaca semua kisah di buku ini. Namun sejauh ini, dia sangat menikmati membaca buku ini. Tidak hanya itu, dia belajar memahami dan mengambil benang merah dari setiap cerita yang ada.
Menurutnya, meski ini adalah kumpulan cerpen, tetap ada benang merah yang bisa ditelusuri. Penelusuran benang merah ini berujung pada satu hal: penghargaan terhadap manusia. Cici dan Dian membantu temannya ini menemukan benang merah dari cerita-cerita ini.
Kesimpulan mereka datang dari berbagai gambaran keadaan di cerpen ini. “Kita mungkin tidak pernah mengalami, tapi dahulu, mungkin saja ada yang benarbenar jadi saksi betapa kejamnya kita memperlakukan sesama,” ujar Dian.
Dengan bahasa yang tajam Puthut mengkritik orang-orang yang memasukkan anak-anak ke dalam penjara. “Salah apa anak-anak yang bahkan belum bisa membaca dan menulis itu?” papar Cici, mengutip sepotong kalimat dari buku ini.
Karena itu, mereka sepakat buku ini seharusnya dibaca oleh anak-anak muda. Supaya mereka tidak mengulangi kesalahan yang pernah dilakukan generasi-generasi sebelumnya. Bagaimanapun, fanatisme berlebihan kepada apapun tidak akan berujung baik. Sepatutnya akal sehat berbicara lebih dulu daripada tangan dan sepatu.
“Bagaimana bisa disebut manusia kalau ada penyiksaan di manamana?” ujar Galih. (luf)
*Bookalholik: Geng bookclub UNY, Book Club Radar Jogja. Sumber: *Sumber: Radar Jogja – Rabu Wage, 6 Mei 2009, hlm. 24.
*Rehal buku: Seekor Bebek yang Mati di Pinggir Kali: kumpulan cerpen/ Puthut EA/ INSISTPress, 2009.





Add Comment