Baca Cerpen ’Bon Suwung’*
Teater Garasi menggelar peluncuran dan pembacaan cerpen ‘Bon Suwung’ karya Gunawan ‘Cindhil’ Maryanto di Toko Buku Toga Mas, Gejayan, Rabu (13/4) pukul 19.00-21.00. Usai peluncuran diadakan diskusi bertema ‘Dongeng, Alusi (pasemon), dan Sastra’ dengan narasumber Dr. Faruk HT, Hairus Salim HS dan cerpenis Gunawan ‘Cindhil’ Maryanto moderator Puthut EA. Dalam kegiatan tersebut disemarakkan pembacaan cerpen oleh aktor Whani Darmawan dan Naomi Srikandi.
Reni Karnila Sari, dari Teater Garasi mengatakan, diskusi ini mencoba membuka kembali ingatan kita tentang dongeng, ‘alusi’ alias pasemon dan sastra. Tiga kata yang diturunkan dalam ‘Bon Suwung’ buat dipercakapkan. “Tema ini, pernah dimunculkan cukup kuat oleh sastrawan Goenawan Mohammad dalam pidato tahun 1992 ketika menerima penghargaan A. Teew di Leiden,” ucap Reni, Sabtu (9/4).
Menurut Reni, pasemon adalah suatu bentuk atau cara ekspresi yang selama bertahun-tahun, mungkin berabad-abad dikenal di Jawa. Merujuk pandangan Prof. Budi Darma ada tiga ciri cerpen Gunawan Maryanto. Pertama, cerpen identik dengan puisi. Kedua, cerpen adalah alusi. Ketiga, cerpen identik dengan dunia asing. Karena cerpen identik dengan puisi, maka cerpen Gunawan Maryanto bertitik berat pada retorika, bukan dua komponen utama dalam cerpen-cerpen tradisional, yakni penokohan dan alur. Cerpen adalah alusi, karena itu sebagian cerpen Gunawan Maryanto berdasarkan teks yang sudah ada sebelumnya, seperti novel, puisi dan penelitian. Bahkan, sebetulnya cerpen Gunawan tidak secara langsung merupakan alusi pun, tidak lepas dari teks-teks yang sudah ada sebelumnya. Retorika cenderung untuk tidak menyentuh realitas yang sebenarnya, sementara alusi adalah teks yang secara tidak langsung diangkat ke dalam teks lain, karana itu jangan heran, cerpen Gunawan Maryanto menawarkan dunia yang asing.
Ditambahkan Reni, sastra pasemon sebenarnya banyak ditemukan dalam karya sastra kuno atau ditemukan pada tukang cerita. “Konsep pasemon ini satu sikap rendah hati dan tanpa sadar menghadirkan sebuah jarak antara penulis atau tukang cerita dan kita,” ucapnya. Maka tidak mengherankan, lanjut Reni, cerita-cerita yang dihadirkan sebuah tempat yang jauh. (Jay)-o
*Sumber: Kedaulatan Rakyat – 11 April 2005.
*Kabar acara diskusi buku: Bon Suwung: kumpulan cerpen/ Gunawan Maryanto/ INSISTPress, 2005.





Add Comment