Pahami Perubahan dengan Studi Kritis*
Masalah perubahan agraria dan kemiskinan di pedesaan semakin kompleks, tetapi studi mengenai itu sangat minim. Di Indonesia, studi ini lebih minim lagi karena selama 30 tahun Orde Baru, penggunaan analisis relasi kelas dalam melihat perubahan agraria tidak dimungkinkan.
“Baru setelah era Reformasi, kajian relasi kelas digunakan. Namun, belum banyak yang menggunakannya untuk mengkaji persoalan agraria,” kata Suraya Afiff, pengajar Antropologi Universitas Indonesia, saat mengantarkan diskusi dan peluncuran buku Dinamika Kelas dalam Perubahan Sosial, Selasa (2/6), di Jakarta.
Buku ditulis Henry Bernstein, Guru Besar Kajian Pembangunan pada School of Oriental and African Studies, University of London, Inggris, dan edisi bahasa Indonesia diterbitkan Insist Press. Diskusi diselenggarakan Puska Antropologi UI, LabSocio Departemen Sosiologi UI, dan Frans Seda Foundation.
Bernstein yang datang dalam acara mengatakan, bukunya ringkasan 40 tahun pengalamannya mengajar, meneliti, dan membaca perubahan agraria. “Ada empat pertanyaan kunci terkait politik-ekonomi yang saya ajukan dalam buku guna menyelidiki relasi sosial serta dinamika produksi dan reproduksi, yaitu siapa memiliki apa? Siapa melakukan apa? Siapa mendapatkan apa? Dan, digunakan untuk apa hasil yang mereka dapatkan?” katanya.
Setelah menguraikan proses produksi dan produktivitas yang berakar pada Marxian, Bernstein menjelaskan asal mula dan perkembangan kapitalisme awal hingga terjadinya globalisasi neoliberal seperti dewasa ini.
Relevansi Indonesia
Nanu Sundjojo, sosiolog dari UI, mengatakan, sekalipun studi Bernstein banyak di Afrika, bukunya sangat relevan dengan Indonesia. “Persoalan agraria sangat penting karena lebih dari 50 persen penduduk tinggal di pedesaan dan tiga perempatnya petani kecil. Bahkan, banyak yang tidak memiliki tanah,” katanya.
Selain itu, pertanian di Indonesia juga lekat dengan persoalan agraria. Jika di Jawa petani banyak berbenturan dengan penguasa sejak era tanam paksa yang berlanjut pada zaman Orde Baru dengan Revolusi Pertanian, petani di luar Jawa berhadapan dengan perusahaan besar yang mengonvensi lahan. Beberapa kasus konflik agraria di Sumatera, Kalimantan, Papua, dan Sulawesi hingga kini mengindikasikan kompleksnya persoalan.
Kompleksitas masalah perubahan agraria juga terjadi karena masifnya alih fungsi lahan di pinggiran kota, seperti di Karawang, Purwakarta, dan Subang, yang jadi basis pertanian.
Namun, kata Nanu, studi kritis persoalan agraria yang menggunakan pendekatan Marxian sangat minim di Indonesia. Hal itu terutama karena ada trauma terhadap konflik berdarah Gerakan 30 September 1965.
Pembahas lain, antropolog Iwan Meulia Pirous mengatakan, buku itu sangat penting. Sebab, menjelaskan persoalan aktual dengan pisau analisis tajam, misalnya sejarah komodifikasi. Buku juga menjelaskan kelas baru di kalangan petani. “Kelas petani juga berjenjang dan saling memangsa di dalam kelas yang sama,” katanya. (AIK)
*Sumber: Harian KOMPAS – 3 Juni 2015.
*Info berita diskusi buku “Dinamika Kelas dalam Perubahan Agraria” | Selasa, 2 Juni 2015, 14.00 Wib | bertempat di Frans Seda Foundation, Jakarta Selatan.





Add Comment